Tampilkan postingan dengan label cerbung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerbung. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 April 2013

kesedihan seorang ibu -1






Yang bisa kulakukan hanya menangis dalam diam.
Hari ini, semua sukses membuatku sedih.
Entah itu anak-anakku, suamiku, adikku, maupun ayahku.
Semua membuatku kecewa di hari yang paling membahagiakan ini sebenarnya.
Kalian tahun hari ini hari apa?
Yap, Hari ini adalah hari yang paling mmbahagiakan, dimana aku dilahirkan oleh seorang ibu yang sangat luar biasa pada empat puluh satu tahun yang lalu.
Tetapi, semua kenyataan berbanding trbalik dengan khayalanku kemarin.
Aku berharap hari ini hari yang cukup membuatku bisa tertawa lepas, tertawa seperti orang lain yang seakan-akan tidak ada beban yang melekat di raga orang lain itu.
Tapi, semua pupus harapan itu.
Kini, hanya ada tangisan, kekecewaan, kemarahan, dan satu rahasia kelam terungkap.
Jujur, ketika mengetahui rahasia itu, saat ini juga aku ingin mati, aku ingin bunuh diri.
Tapi, itu semua tidak kulakukan karena aku masih mengingat kedua anak-anakku, dan suamiku.
Kuharap, untuk esok harinya tidak ada tangisan lagi sperti ini, walaupun aku sudah tidak ada di dunia ini lagi :”)

Minggu, 08 April 2012

Love Is Not A Game -part 9-


Love Is Not A Game!!

-Part 9-

“Ehem,” suara dehaman itu sontak membuat Meitha dan Dani menoleh kaget ke arah sumber suara itu. Erick berdiri di depan pintu kelas Meitha dengan ekspresi datar. Dani buru –buru berdiri dari kursinya dan mendekati Erick.

“Gue cariin lo kemana –mana. Eh, ternyata disini,” kata Erick pada Dani sambil menepuk bahu Dani pelan. Dia kembali melanjutkan, “Lagi ngapain lo?”

Dani tersenyum kecut. “Gue cuma memastikan gosip panas yang udah menyebar satu sekolah”

Glek! Mendengar kata –kata Dani, Meitha langsung menelan ludah. Masa iya sih udah nyebar ke satu sekolah? Hah, iya juga ya? Dani kan anggota OSIS. Kalo udah denger nih berita, berarti urusannya emang kacau. Masalahnya adalah, anggota OSIS biasanya nggak terlalu update dengan gosip –gosip disekolah. Wah, rempong deh!

“Ohh, jadi.. menurut lo gimana?” tanya Erick seolah yang dibicarakan tidak ada disitu. Meitha memilih tidak menanggapi. Mending cuma dengerin mereka aja. Dan Meitha penasaran juga dengan pendapat Dani.

Dani terlihat gelisah. Ia menggigit bibirnya sesaat kemudian tersenyum ragu. “Well, entahlah. Gue nggak nyangka aja…”

“Nggak nyangka gimana?” potong Meitha akhirnya angkat suara juga. Dani terlihat terkejut saat mendengar pertanyaan Meitha. Seolah Dani melupakan keberadaan Meitha saja!

“Gue nggak nyangka aja kalian bakal, eh, jadian,” jawab Dani masih dengan keraguan dalam suaranya. Seolah ada kalimat yang tertahan di ujung lidah Dani.

Erick tertawa kecil dan menatap Meitha penuh arti. Oh, dia tahu betul apa yang menyebabkan semua ini terjadi. Dan tentu saja Dani tidak mengetahui alasan sebenarnya. Meitha menundukkan kepalanya ketika merasakan tatapan penuh arti Erick. Bisa mampus dia kalo Dani sampai tau hal yang sebenarnya.

Meitha memilih mengalihkan pembicaraan. “Eh, mana Renita?”

“Tuh,” Erick menunjuk ke belakang. Kepala Renita menyembul dari balik pintu dengan cengiran khasnya. Rupanya, cewek itu mendengar pertanyaan Meitha dari balik pintu. Meitha bangkit dari tempat duduknya dan menyusul Renita. “Gue pergi dulu ya sama Renita. Dah!”

Entah kepada siapa sapaan itu dimaksudkan. Meitha langsung menarik tangan Renita dan mengajaknya pergi sejauh mungkin dari tempat itu. Kedua cowok itu hanya memandangi kepergian kedua cewek itu. Erick mengikuti setiap gerak gerik Renita dengan tatapan, seperti biasa, penuh cinta. Sedangkan Dani menatap kepergian Meitha dengan tatapan yang sulit diartikan. Erick yang menyadari kemana arah tatapan Dani melambaikan tangannya di depan wajah Dani. Dani melepaskan pandangannya dari Meitha dan menatap Erick penuh tanya.

“Cewek sohib lo nih. Jangan macem –macem lo. Bisa abis lo ditangan Ryan,” peringat Erick sungguh –sungguh.

“Gue tau kok”

“Lagian lo udah punya Marisa kan?” celetuk Erick pelan. Dani memilih diam dan tidak menanggapi perkataan Erick. Erick menjadi penasaran melihat keterdiaman Dani. “Napa lo?”

Dani berbisik lirih, “Gue udah putus kali sama dia…”

***

“Kalo gini mah sama aja kayak gue nggak punya pacar!” gerutuan Meitha membuat Renita hampir saja tersedak karena tawanya yang sudah siap menyembur. Dan benar saja, sedetik setelah Renita bisa menelan minumannya, ia langsung tertawa terbahak –bahak. Tak ia pedulikan tatapan pengunjung kafe itu yang menatapnya dengan tatapan penasaran. Meitha tersenyum kecut dan kembali melanjutkan aktivitasnya sedari tadi. Mengaduk –aduk minumannya.

“Emang kenapa dia?” tanya Renita di sela –sela tawanya.

“Sekarang gue tanya deh sama lo : Udah berapa hari gue jadian sama dia?”

“Lima hari,” jawab Renita langsung. Meitha mengangkat sendok yang dia gunakan untuk mengaduk jus apelnya dan menudingkannya ke wajah Renita. “Nah, itu! Oke, gue emang nggak berharap apapun mengenai hubungan gue sama dia. Tapi.. please deh, buat apa dia nerima gue kalo kayak begini jadinya!?”

“Maksud lo? Kok gue tetep nggak ngerti?” tanya Renita lalu mengulurkan tangannya untuk menahan sendok di depannya itu agar tidak macam –macam pada wajahnya.

“Lo percaya nggak kalo gue bilang selama tiga hari ini dia sama sekali nggak pernah nyapa gue, sms gue, nelepon apalagi. Papasan sama gue aja langsung memalingkan wajah! Kurang ajar banget nggak sih tuh cowok!?”

Renita menggeleng –gelengkan kepalanya dengan ekspresi takjub. Sumpah, Ryan itu maunya apa sih? Renita jadi ikutan bingung. Hoh, pantas saja Meitha tiba –tiba ingin menraktirnya di kafe langganan mereka. Pengin curhat rupanya.

“Dan kayaknya nggak ada tuh kata “ngantar jemput pacar” dalam kamus dia. Lo liat aja deh, tiap pulang sekolah dia langsung ngacir nggak tau kemana. Padahal biasanya dia kan suka main basket. Ya kan? Gue jadi curiga jangan –jangan dia nggak tau apa arti PACARAN. Malahan kayak ngehindarin gue gitu. Edan!”

Tawa Renita kembali terdengar. Kali ini malah lebih heboh, membuat Meitha terpaksa membekap mulut sahabatnya itu dengan tangan kanannya. Meitha cemberut sejadi –jadinya. Sahabat macam apa ini!? Ngetawain dia sampai seperti itu. JLEB banget tau nggak sih!?

“Ahahahaa.. Mungkin juga dia ngira pacaran itu artinya ‘penyakit mematikan’. Ngeliat wajah lo aja udah bikin gatel –gatel. Huahahahahha..”

Meitha menjitak kepala Renita dengan keras. Meitha langsung ngomel –ngomel. “Lo ngehina gue nih?”

“Faktor face, Met..” Renita cengengesan dan menghindar ketika Meitha mulai melayangkan aksi cubitan di lengan Renita.

“Udah ah. Gue serius nih. Menurut lo gimana? Gue ngerasa kayak digantungin. Rese! Nggak enak banget!” seru Meitha dengan mata berapi –api. Renita menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia juga bingung sih.

“Tanya aja sama orangnya langsung?” usul Renita akhirnya karena sudah kehabisan akal. Meitha berdecak dan kembali mengacung –acungkan sendoknya dengan gaya dramatis. “Ngeliat gue aja dia nggak mau. Gimana caranya gue bisa ngomong sama dia?”

Renita meringis karena tidak tahu jawabannya apa. Sebuah ide terlintas di benak Renita. “Gue suruh Erick aja buat nanyain ke Ryan. Gimana?”

Meitha menyentakkan tangannya dan ujung sendoknya hampir saja menyentuh ujung hidung Renita. “Bagus! Bilang juga sekalian, kalo nggak niat pacaran bilang aja. Nggak usah ngegantung gue kayak gini. Gue nggak butuh status. Apalagi dari dia. Ih! Amit –amit!”

“Yakin nih mau gue sampein sesuai dengan kata –kata lo tadi?” tanya Renita dengan binar jail dimatanya. Meitha terdiam sesaat. Buru –buru ia menggeleng ngeri. “Eh, jangan deng! Bisa mampus gue ditangan dia! Yang bagian nggak niat sama ngegantung aja. Lanjutannya di sensor deh”

“Oke..” Renita mengambil hape ditasnya dan mencari nomor hape Erick. Ia memencet tombol hijau dihapenya tanda ia menelepon nomor itu.

“Gue ke toilet deh,” pamit Meitha dan langsung ngeloyor pergi. Renita tertawa kecil, tau betul Meitha nggak ingin dengar pembicaraannya dengan Erick.




Erick yang sedang asik ngumpul dengan Ryan dan teman –temannya dikagetkan dengan getaran hape di saku celananya. Erick merogoh saku celananya dan matanya langsung berbinar melihat siapa peneleponnya itu.

“Renita ya?” ledek Adit dan disambut dengan tawa yang lainnya. Erick hanya cengar cengir diledek seperti itu dan segera mengangkat teleponnya.

“Halo?”

“Lagi apa?” pertanyaan itu sungguh simpel dan penuh basa basi. Tapi bagi Erick, wow, itu sesuatu banget! Renita meneleponnya hanya untuk bertanya dia sedang apa? Aih

“Ini gue lagi ngumpul sama temen –temen,” jawab Erick dengan gugup. *hasyah*

“Oh, sama Ryan juga?”

Khayalan Erick langsung rusak dalam sekejap. Jika tadi dia sedang melayang di angkasa, sekarang mah udah nyungsep di dasar lautan. Kalo udah menyangkut Ryan, pasti ngomongin Meitha. Yah, padahal Erick tadi udah kegeeran tuh
.
“Iyaa.. Kenapa?” tanya Erick dengan nada melemah. Galau deh..

“Gini lho, Rick…” Dan mengalirlah cerita mengenai curhatan Meitha tadi kepada Renita. Tawa Erick nyaris menyembur mendengar cerita dari Renita. Memang sih, Erick perhatikan sohibnya itu memang jarang terlihat jalan bareng Meitha. Dia nggak nyangka ternyata separah ini!

“Oke deh. Gue tanyain ya,” Erick menjauhkan hapenya dari telinganya dan tanpa sempat dicegah Renita, Erick langsung memberondong Ryan dengan pertanyaan –pertanyaan yang terdengar cukup jelas di telinga Renita.

“Yan, lo gimana sih? Nggak gentlemen lo ahh,” pembukaan yang sungguh sangat menyakitkan hati. Apalagi jika di tujukan untuk orang yang sama sekali nggak ngerti dengan apa yang dibicarakan.

“Maksud lo?” tanya Ryan dengan nada sedikit meninggi karena kesal sekaligus bingung. Jelas saja kata –kata Erick tadi menyinggung egonya. Untung saja hanya tinggal mereka berempat disana –Adit, Dani, Erick dan Ryan sendiri. Kalo dengan gerombolannya yang lain? Erick jelas nyari masalah tuh!

“Ya.. kasian gue sama cewek lo. Masa lo gantungin gitu?”

“Gantung gimana?” potong Dani dengan alis berkerut heran dan langsung dihadiahi tiga pasang mata yang menatapnya tajam. Dani meringis kemudian menutup mulutnya saja.

“Hmmm.. Emang dia ngelapor sama lo?”

“Nggak sih, Yan. Renita yang cerita ke gue. Meitha bilang, ‘Kalo nggak niat pacaran bilang aja. Jangan ngegantung gue kayak gini’. Yah, kira –kira begitu..” lapor Erick dengan lugunya. Renita yang mendengar ucapan Erick dari seberang telepon nyaris terjungkal mendengarnya. Ia menepuk jidatnya dan menggerutu. Heran, Erick ini kok ya ngomongnya asal nyablak nggak pake sensor sih!? Mana nada suaranya terdengar menantang lagi.

Tentu saja Adit langsung tertawa sejadi –jadinya. Putung rokok yang dihisapnya tadi ia jatuhkan entah kemana. Tawa Adit jelas sangat menyinggung Ryan. Kaki Ryan langsung menginjak putung rokok Adit tanpa ampun.

“Awas lo ya. Ketawa lagi gue sumpel mulut lo pake sendal baru tau rasa lo!” ancaman Ryan malah membuat tawa Adit kian heboh. “Haduh, nggak bisa, Yan! Hahaha.. Eh, lo mau gue ajarin kagak gimana caranya pacaran? Kasian bener lu. Seminggu aja belum lewat, udah mau diputusin!”

Ryan menatap Adit dengan tajam. Dani cuma bisa menggeleng –gelengkan kepala melihat aksi adu mulutnya Ryan dan Adit. Erick jadi bete sendiri. Berasa dianggap angin lewat! Erick mulai ngomel –ngomel.

“Heh! Lo pada nggak ngehargain tuan rumah kali ya? Apaan tuh buang sampah sembarangan,” tunjuk Erick ke sisa putung rokok Adit yang sudah remuk karena diinjak Ryan. Erick mengalihkan pandangannya ke Ryan. “Elo lagi. Ditanyain malah nggak jawab. Buruan jawab apa susahnya sih!?”

Kali ini, diseberang telepon Renita ketawa ngakak habis –habisan ngedenger Erick yang ngomel –ngomel persis kayak bokapnya aja!

“Iyaa.. iya..” jawab Ryan malas –malasan. “Ntar gue sendiri yang bakal ngehubungin Meitha. Udah sono. Lanjut aja teleponnya ama cewek lo itu…”

Erick merengut kesal, tidak puas dengan jawaban Ryan. Tapi mau gimana lagi?

Erick melangkah ke luar ke teras rumah agar pembicaraannya tak terdengar yang lainnya. “Gimana, Ren? Udah denger kan lo dia ngomong apa?”

“Hmmm.. Tuh dua orang susah banget yak buat di comblangin?” gerutu Renita di seberang. “Lo punya ide nggak?”
“Ada,” cetus Erick langsung. “Mau denger?”

“Apaan?” tanya Renita penasaran. Erick tersenyum lebar mendengar nada penasaran dalam suara Renita. Sekali tepuk, dapat dua lalat. Itu lah rencana Erick!

“Jadi gini….”

***

“Yan…”

“Hmm?” gumam Ryan tanpa memalingkan wajahnya dari layar televisi. Adit dan Dani sedang asik mengacak –acak dapur rumah Erick untuk mencari apa saja yang bisa dimakan. Kesempatan bagus karena Erick bisa menjalankan rencananya dengan mudah.

“Kayaknya Meitha emang nggak suka beneran deh sama lo,” pembukaan yang sangat simpel namun sukses membuat perhatian Ryan teralihkan seluruhnya padanya. Ryan mengecilkan volume suara televisi dan menatap Erick dengan alis terangkat.

“Maksudnya?”

“Iya, kalo dari ceritanya Renita.. Meitha kayaknya pengin diputusin deh sama lo”

“Begitu?” ucap Ryan pendek dan terlihat sedang berpikir. Erick mengangguk pelan. Ia berkata dengan hati –hati, “Kasian ya lo. Giliran lo nerima pernyataan cinta cewek, eh, ceweknya malah nggak serius sama lo”

“Maksud lo apa, Rick?” tanya Ryan tajam ditambah dengan tatapannya yang tak kalah tajam. Erick mengangkat bahu. Terlihat ragu –ragu antara ingin menjawab atau tidak. Ryan jadi tidak sabar melihat tingkah laku Erick.

“Apaan? Ck, jangan buat gue penasaran deh,” seru Ryan tak sabar.

“Nggak. Nggak papa kok” Meskipun bilangnya nggak papa, keliatan banget ada apa –apanya! Ngebuat Ryan jadi makin penasaran aja!

“Ngomong aja apa susahnya sih??” desak Ryan semakin tak sabar. Erick masih mengulur –ngulur waktu. Sengaja membuat Ryan penasaran setengah mati. “Nih ya. Gue cuma mikir.. kalo dia cuma mau main –main sama lo… Lo biarin aja tuh dia berbuat gitu sama lo?”

Ryan terdiam sesaat. “Ummm..”

“Seharusnya kan lo kasih pelajaran gitu sama dia,” ucap Erick provokatif. Ryan masih diam saja dan terlihat bingung. “Pelajaran gimana?”

“Gampang aja. Buat dia beneran jatuh cinta sama lo”

“Heh?” Ryan melongo mendengar ide gilanya Erick. Apaan coba ini anak? Emang sih, kayaknya Meitha nggak serius sama dia. Tapi, ngapain juga repot –repot bikin Meitha jatuh cinta sama dia? Pake apaan lagi caranya? Aneh –aneh aja.

Erick menaikkan alis setinggi –tingginya. “Kenapa? Lo takut? Halah, kasian bener lho, Yan. Udah deh. Nggak jadi. Pacaran dulunya aja nggak pernah, jatuh cinta aja kayaknya juga belum pernah, nggak mungkin kan lo bisa naklukin hatinya. Ya kan?”

Pernyataan itu sukses membuat Ryan terserang penyakit darah tinggi. Itu kata –kata menyinggung banget tauuuu? Ngehina banget. Okelah dia emang belum pernah pacaran. Okelah kalo dia emang belum pernah jatuh cinta. Tapi sampe nggak bisa ngedapetin hati cewek satupun!? Ngajak ribut itu namanya!

“Enak aja lo kalo ngomong,” desis Ryan terpancing dengan kata –kata Erick.

“Gue ngomong apa adanya nih,” seru Erick dengan nada maju tak gentar. Sebodo amat kalo Ryan ngamuk. Yang penting misi terlaksana. Wajah Ryan merah padam karena kesal sekaligus marah. Ini anak emang paling pinter bikin emosi Ryan melonjak!

“Lo aja dari dulu nggak bisa ngedapetin Renita. Sok –sokan nantangin gue lagi,” cela Ryan tak kalah sadisnya. Di luar skenario, Erick malah jadi kepancing emosinya. Ow ow ow.. Dan skenario-nya benar –benar melenceng saat kemudian Erick melontarkan tantangannya.

“Wah, nantangin nih? Okee! Gue pasti bakal bisa ngedapetin Renita”

“Ohya?” seru Ryan meremehkan. Nah, nah, nah.. Keadaan malah berbalik 180 derajat! Bukannya Ryan yang kepancing, malahan Erick yang kepancing. Erick sudah hampir mendebatnya lalu teringat tujuan utamanya.

“Oke, gue bakal nembak dia. Kalo sampe Renita nerima gue, berarti lo juga harus serius sama Meitha,” tandas Erick akhirnya walau agak ketar –ketir juga. Kayaknya dia harus minta tolong Renita untuk menyetujui rencananya ini. Apapun yang terjadi. Kalau enggak, wah, mau ditaruh dimana muka Erick!?

“Bukan hanya nerima, karena lo pasti bakal ngadain manipulasi. Pastiin dia bener –bener suka sama lo!” tantang Ryan. Erick merutuk dalam hati. Ryan emang paling sulit untuk dibodohi! Argh. “Deal?”

“Deal” ucap Erick pasrah.

Kacau nih! Kacau! rutuk Erick dalam hati.

***

Ternyata Ryan nggak main –main dengan tantangan Erick itu. Esok harinya keadaan langsung berbalik seratus delapan puluh derajat.

Meitha melongo saat mendapati ada sms dari Ryan setelah sekian lamanya dan isinya adalah.. jeng.. jeng.. Ryan mau ngejemput Meitha pagi ini! Ada apa ini!? Meitha jadi blingsatan kayak orang gila pagi itu. Masalahnya, dia nggak nyangka aja keadaan langsung berubah drastis karena Erick melaporkannya ke Ryan. Mana dia tahu kalo ada faktor tambahan tak terduga di baliknya.

Hanya ada dua alasan. Pertama, Ryan akhirnya menyadari kesalahannya. Kedua, Ryan bakal “menghabisi”nya! Setelah dipikir –pikir, kata –katanya kemarin malah terdengar seperti menantang. Kan kacau tuh kalau nantangin cowok satu itu. Ampun!

Terdengar suara bel pintu membuat Meitha terlonjak dari tempat duduknya. Orangtuanya menatap anaknya sekilas kemudian saling melirik penuh tanda tanya. Meitha tergeragap. “Aku cek dulu ya. Mungkin yang datang, eh, temenku”

Mamanya mengangguk pelan sedangkan papanya tetap melanjutkan sarapannya dalam diam. Meitha buru –buru membuka pintu dan memang benar itu Ryan.

“Hei,” sapanya pendek. Seperti biasa. Tapi ada yang berbeda. Meitha mengerutkan dahi mendengar nada suara Ryan yang lebih halus daripada biasanya. Apalagi ketajaman tatapannya itu kayaknya berkurang drastis deh. Wow.

“Oh, hei,” sapa Meitha kikuk. Abisnya bingung mau bereaksi gimana.

“Udah siap?”

“Ehh.. iya, bentar. Gue pamit dulu sama ortu gue” Meitha buru –buru ngacir ke dalam kayak orang kesetanan. Di hampirinya kedua orang tuanya lalu mengambil tasnya yang dia sampirkan di dekat kursinya tadi. “Ma, Pa, berangkat dulu ya”

“Iya, emang siapa yang ngejemput?” tanya papanya santai. Eh, nggak taunya Meitha malah langsung keliatan salting. “Eh.. temen..”

“Temen?” tanya mamanya curiga.

“Ehhhh.. Iyaaaa..”

“Siapa?” Mamanya beranjak bangkit dari kursinya. Meitha langsung menahannya. “Udah, Ma. Lanjutin aja sarapannya. Aku berangkat ya. Dah!” Bener –bener anak nggak sopan, abis gitu langsung ngacir lagi keluar. Males banget kalo ntar di interogasi. Mamanya banget deh. Kalo udah nyerocos nggak ada akhirnya yang ujung –ujungnya malah bikin Meitha malu.

“Ayo,” ajak Meitha masih keliatan gugup pasca kejadian tadi. Dan Ryan mulai menyusahkannya juga.

“Ortu lo mana? Nggak pamit?” tanya Ryan sambil melonggokan kepalanya ke dalam. Meitha menahannya dengan panik. Hal terakhir yang diinginkannya adalah kalo orangtuanya sampe tau Meitha punya “pacar”!

“Eh, tadi udahhh kok.. Ayo, buruan! Ntar telat”

“Tapi gue kan belum. Nggak etis dong kalo gue nggak pamit sama ortu lo”

Ini anak kesambet apaan coba? Grr.. Belum sempat Meitha mengemukakan argumennya lagi, mamanya udah keburu nongol. Ow.. ow..

“Siapa, Met?” pertanyaan mamanya sontak membuat Meitha meringis. Meitha kenal betul nada suara mamanya itu. Nada ingin tahu yang ujung –ujungnya pasti bakal menginterogasinya.

Mending jelasin sekarang dengan cepat daripada mamanya keburu beraksi! “Ini ummmmm.. ehh.. pa.. pacar aku, Ma” Udah. Abis ngomong begitu wajah mamanya langsung keliatan kayak nelen biji durian.

 “Pacar kamu? Ohhhhhh.. pantesan kamu keliatan aneh hari ini. Salting ya hari ini di jemput pacar?” Mamanya terkikik dan menatap Meitha penuh arti. Ryan cuma senyum –senyum aja tanpa berkata apa -apa.

Udah, bunuh aja gue sekarang! Arghhhhhhh!! Malunya kagak nahaaaaaaaaaan! Grr


“Nama kamu siapa, Nak?” tanya mamanya penuh minat. Meitha hanya bisa menghembuskan nafas pasrah dengan wajah memerah tentunya.

“Ryan, Tan,” jawab Ryan pendek walau terdengar sopan.

“Ohhh..” Mamanya kembali cekikikan dan rasanya Meitha ingin menghilang saat itu juga. “Kapan jadiannya?”

“Apaan sih, Ma??? Norak tau nggak,” seru Meitha jengkel bertepatan dengan jawaban Ryan. “Hampir satu minggu yang lalu” Laluuuuuu…

“Hah!? Udah satu minggu!? Kamu kok nggak bilang –bilang mama sih, Met!?”

Beneran. Gue kayaknya bisa mati karena nggak bisa nahan malu nih!


“Udah ahh. Ntar aku telat nih!” potong Meitha buru –buru dan segera menarik Ryan dari situ saat itu juga. Daripada semakin dipermalukan, mendingan juga kabur aja! Tuh, Ryan aja keliatan lagi nahan ketawa tuh. Grrr..

Ryan menjemputnya menggunakan motor sport berwarna hitam. Baru saja Meitha menyuruh Ryan supaya cepat –cepat menyalakan mesin motornya dan pergi dari tempat itu, mamanya sudah berulah lagi.

“Kamu nggak bawa helm, Met? Ohhh.. Udah dibawain ya?” Mulai deh. Mulai! Meitha menutup wajahnya saat sudah duduk di atas motor itu dan dia juga bisa mendengar tawa tertahan Ryan.

“Udah. Buruan!” seru Meitha kesal. Ryan masih tertawa pelan apalagi saat seruan mamanya terdengar lagi. “Pegangan dong, Nak. Ntar jatuh kan repot!”

Grrrr.. Mau tak mau Meitha memilih berpegangan pada ujung kemeja Ryan. Nggak mau repot –repot melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Ryan karena dipastikan mamanya nanti bakal bersiul –siul! Meitha baru bisa menghela nafas lega saat Ryan mulai memacukan motornya di jalanan.

Sepanjang jalan mereka dieeeeeeeem aja. Sibuk dengan pikiran masing –masing. Meitha jelas sedang mengatur rasa malunya yang tadinya berada di puncak tertinggi. Kalo Ryan sih nggak tau ye.

Saat memasuki area sekolah, dipastikan semua mata yang ada di sana mengikuti pergerakan mereka. Sekolah masih heboh gara –gara Meitha “pacaran” sama Ryan. Awal –awal pacaran Meitha di interogasi hampir seluruh penghuni sekolah. Sampe guru –guru, staf, bahkan kepseknya segala! Ampun. Baru sedikit reda, mereka kembali bertanya –tanya kenapa Meitha jarang keliatan jalan bareng Ryan. Udah mulai reda, tapi kayaknya dia bakal di interogasi lagi karena kejadian pagi ini. Intinya, capek banget deh!

Ryan memakirkan motornya dan Meitha langsung turun. Dia udah mau ngacir tapi cekalan Ryan menahannya. “Mau kemana?”

“Ya ke kelas. Emang mau kemana?” tanya Meitha bingung sekaligus gugup.

“Gue anter,” kata Ryan cuek. Lah? Meitha kontan saja langsung berkata, “Kenapa?”

Ryan langsung menghadiahinya tatapan tajam. “Emang nggak boleh?”

Idih, ini cowok aneh bener!


“Kemarin –kemarin ngelirik gue aja elo nggak mau,” gerutu Meitha tanpa sadar. “Kesambet apaan lo?”

“Kan gue nggak enak udah ngegantungin elo,” ledek Ryan dengan senyum mengejek. Dipastikan wajah Meitha langsung memerah. Kemarin Erick ngomong apaan sih ke Ryan!? Sialan.

“Ehhhh.. Guee..”

“Kayaknya mulai sekarang kita ngomongnya pake aku-kamu aja deh,” potong Ryan mengalihkan pembicaraan. Dia bersandar pada motornya dan menyilangkan kedua tangannya di dada.

“Heh, kenapa?” tanya Meitha kayak orang bego. Ryan menjawab dengan kalem, “Kalo orang pacaran emang biasanya gitu kan?”

Waduh. Kok suasana mendadak serius gini ya!? Meitha jadi bingung mau bereaksi apa. Lagian, jawaban Ryan benar –benar nggak terduga. Dan pertanyaannya polos bener. Ckck

“Ummm.. nggak ah. Rasanya kok jadi formal banget,” tolak Meitha halus. Asli, Meitha nggak bisa bayangin harus beraku –kamu sama Ryan. Hiyyy!

“Okeee..” Meitha menghembuskan nafas lega.  “Tapi aku tetep pake aku-kamu kalo ngomong sama kamu. Kalo kamu-nya sih.. terserah”

Ini cowok beneran ngajak ribut! Kalo dia-nya pake aku-kamu, Meitha juga harus pake aku-kamu dong! Nggak lucu dong kalo Meitha malah ngejawab pake gue-elo. Dan.. dan.. Rasanya aneh banget ngedenger Ryan ngomong pake aku –kamu! Kayak ada yang berdesir gitu dihatinya. *eaa*

“Ah, ya udah deh. Kita pake aku-kamu aja,” Meitha akhirnya mengalah juga walau masih agak –agak nggak rela.

“Sipp. Ayo,” Dan Ryan menggandeng tangan Meitha tanpa babibu. Ya ampun, doakan jantung Meitha nggak copot saat itu juga!

***

Begitu sampe dikelas, Meitha bengong melulu. Nggak dia tanggepin tuh temen –temen sekelas yang penasaran begitu ngeliat Ryan nongol di kelas mereka tadi. Yang penting bengong! Abisnya, sikap Ryan yang berubah banget itu memang patut di lamunin. Aneh sih! Tadi sikapnya jadi lebih.. emm, manis mungkin? Iya, manis banget. Ngeri juga Meitha lama –lama. Rasanya aneh aja gitu.

“Dorr!” Renita menepuk bahu Meitha membuat Meitha akhirnya terpaksa menghentikan lamunannya. “Apaan sih?”

“Ngelamunin siapa hayooo?? Yang tadi di jemput terus di anterin sampe depan kelas.. Gue tau lohhh! Cieeeee.. Cieehhh”

“Apa deh lo,” sanggah Meitha salting. Renita ketawa ngakak melihat kesaltingan Meitha. Renita menggeleng –geleng takjub. Entah apa yang dilakukan Erick, yang jelas rencananya benar –benar sukses ses ses! Padahal rencana kedua Erick belum dilaksanakan. Kalo rencana kedua dilaksanakan, kayaknya bakal lebih heboh lagi tuh!

Dan benar saja, begitu istirahat berbunyi.. gerombolannya Ryan udah berdiri di depan pintu. Cuma kelompok inti sih sebenernya. Ryan, Erick, Dani dan Adit. Tapi udah sukses bikin satu kelas rusuh. Udah abis dah tuh Meitha diledek satu kelas. Malunya kagak nahan! Apalagi sikap Ryan yang kayaknya udah bukan manis lagi, tapi malah jadi romantis bin mesra.

Yang bikin satu sekolah yang berjenis kelamin perempuan iri setengah mati dengan Meitha karena melihat perlakuan manisnya Ryan. Pemandangan langka nih! Apalagi kalo Ryan bisa mengecilkan intensitas tatapan tajamnya plus menambah senyum, Ryan pasti udah dinobatin jadi cowok paling cakep satu SMA ini. Apalagi saat Ryan merangkul bahunya. Udah! Pasti Meitha nggak bisa pulang hidup –hidup kalo ketemu Sandra cs!

***

Meitha stress berat. Cowok satu itu sukses menambah daftar cewek –cewek yang iri padanya. Sukses membuatnya jadi trending topic di sekolahnya. Sukses bikin Meitha berasa hampir mati karena dipelototin dengan tatapan membunuh oleh Sandra cs. Dan sukses bikin hatinya jungkir balik. Apalagi sukses bikin Meitha was –was kalau –kalau ntar dia malah beneran jatuh cinta sama Ryan! Satu hari aja belum lewat, apalagi besok –besoknya!?

Di tengah kegalauan hatinya itu, munculah perusuh baru yang nggak terpikirkan oleh Meitha. Erick! Saat Meitha sedang pelajaran olahraga, entah muncul dari mana, tau –tau Erick sudah berdiri tepat di depannya.

“Hei,” sapa Erick sambil cengar cengir. Meitha mengerutkan dahi melihat keberadaan cowok itu. “Ngapain lo disini?”

“Disuruh ngambil fotokopian. Waktu ngeliat elo olahraga, jadi ya gue mampir. Lagian, ngapain lo duduk sendirian di bawah pohon gini?”

“Tadi gue kan udah penilaian. Tapi Renita belum selesai,” jelas Meitha tanpa diminta. Ya iyalah, buat apa Erick nyamperin dia kalo bukan karena Renita!? Erick tertawa kecil sebagai tanggapannya.

Dan Erick mulai meledek Meitha. “Jadi, gimana? Udah klepek –klepek gara –gara Ryan belum?”

“Rese lo!” umpat Meitha dan menendang lutut cowok itu. Erick meringis tapi tetap melanjutkan ledekannya. “Abis lo, Met. Salah sendiri main –main sama Ryan. Ntar juga lo bakal jatuh cinta sama dia” Erick terkekeh geli membayangkannya. Ck, susah deh kalo ada orang yang tau alasan sebenernya kenapa Meitha bisa nembak Ryan!

Meitha memilih nggak menanggapi.

“Serius nih. Hati –hati lho. Ryan kalo udah ngeluarin pesonanya, lo nggak bisa lari lagi”

NGGAK USAH LO KASIH TAHU GUE JUGA UDAH TAHU B.A.N.G.E.T!! GRRR! Itu cowok pake pelet ato santet kali ya!?? Sereeeeeeeeeem tauuuuu!


“Bales dong, Met”

“Hah? Maksudnya?” tanya Meitha nggak ngerti.

“Iya, bales keluarin pesona lo juga. Biar dia yang tergila –gila sama lo”

Ide bagus tuh.

“Gitu?” tanya Meitha masih nggak yakin. Erick ketawa melihat ekspresi Meitha yang ragu –ragu. “Iya, daripada elo yang jadi jatuh cinta sama dia. Mendingan dia yang jadi jatuh cinta sama lo”

Meitha mengerutkan kening kemudian tertawa. “Iya juga ya? Kenapa nggak kepikiran?”

Erick tersenyum lebar melihat Meitha menyetujui sarannya.

Jadi, gimana jadinya ya kalo kedua orang itu saling berusaha membuat lawannya jatuh cinta!? Nggak kebayang!

Senin, 02 April 2012

Love Is Not A Game -part 8-


Love Is Not A Game!!

-Part 8-

“Elo yang nembak dia!? Serius lo, Yan!?” tanya Sandra tak percaya, mewakili para anggotanya yang terlihat sama tak percayanya dengan Sandra. Bisa dibilang, dari seluruh siswi disekolah ini, hanya Sandra dan Meitha yang berani berbicara dengan Ryan tanpa ada rasa segan ataupun takut. Sandra, karena cewek itu kayaknya emang udah tergila – gila banget sama Ryan sehingga tidak peduli dengan “perilaku” Ryan. Meitha, karena cowok itu memang sangat suka mengganggunya atau mungkin sekedar menyapanya.

Bagaimana pun juga, Ryan itu sikapnya emang agak aneh kalo sama cewek. Dinginnya nggak ketulungan. Jarang banget dia baik sama cewek. Dalam kasus ini, Meitha termasuk dalam kategori itu.

“Menurut lo?”

“Gue.. gue nggak percaya!!” seru Sandra dengan wajah merah padam karena kesal. Para pengikutnya juga berbisik – bisik dan menatap Meitha dengan pandangan tidak menyenangkan. Meitha tidak menggubris tatapan menyebalkan mereka karena ia sendiri juga heran dengan pengakuan Ryan.

“Buat apa gue bohong?” tanya Ryan balik dengan santainya. Sandra kehabisan kata – kata mendengarnya. “Tapi.. tapi cewek itu kan…”

“Kenapa!?” tanya Ryan cukup tajam membuat Sandra tertunduk karena agak gentar juga dengan sikap Ryan yang mulai “dingin”.

“Gue nggak terima elo pacaran sama dia..” Sandra emang bener – bener nekat! Tapi pengikutnya malah mendukungnya walau tidak terlalu kentara. Emang pas kalo si Sandra jadi ketua. Dia itu kan bonek alias bocah nekat!

“Gue nggak ngerti kenapa elo dan semua pengikut lo itu hobi banget ngurusin masalah gue. Kalian ini perkumpulan penggosip ya?”

GUBRAK! Gile bener nih Ryan, masa dia segitu “buta”nya sih sama pesona sendiri!?

“Kok elo ngomongnya gitu sih, Yan!?? Gue kan udah bilang sama lo.. Kita tuh…”

“Terserah deh,” potong Ryan yang mulai malas meladeni ocehan seniornya itu. “Udah ya, to the point aja. Mau lo apa sih, Nek?”

“Kok elo manggil gue ‘NEK’ sih!?” protes Sandra tidak terima. Meitha cengar cengir mendengarnya kemudian buru – buru menutup mulutnya saat Sandra memelototinya.

“Ya.. elo kan senior gue..?” Ryan memasang wajah lugu terbaiknya. Meitha menutup mulutnya dengan tangan untuk menahan tawanya yang sudah hampir menyembur. Apa hubungannya coba? Maksa bener..

“Tapi kan cuma beda setauuuuuuuuuuuun!!”

“Tetep aja judulnya daun tua. Ya kan?”

Meitha nggak bisa menahan tawanya dan tertawa sejadi-jadinya. Sumpah, kata-katanya Ryan sesuatu banget. Menusuk hati deh. Sampe-sampe pengikutnya Sandra juga ada yang cekikikan. Wajah Sandra merah padam. Ia menoleh ke belakang dan membentak salah satu anggotanya, “Diem lo!”

Meitha langsung memasang wajah datar. Penyesuaian diri. Mereka kan sedang berada dalam kawasan penuh konflik! Ryan yang berdiri disebelahnya cuma masang wajah yang nggak kalah datarnya. Bedanya, Ryan keliatan agak kesal, marah, dan nggak sabaran dengan situasi yang ia hadapi.

Meitha juga baru menyadari kalo sedari tadi Ryan sedang merangkul bahunya. Ejiehh, nyadarnya telat banget! Meitha menggeser sedikit tubuhnya ke kanan menjauhi Ryan, dan rangkulan Ryan menjadi sedikit mengendur. Tapi emang dasar Ryan, entah sengaja pengin gangguin Meitha atau malah sengaja pengin manas-manasin Sandra dkk, Ryan malah ikutan bergeser ke kanan dan mengetatkan rangkulannya. Meitha memelototi Ryan dari sudut mata. Cowok itu malah mengulum senyum dan terlihat sedang menahan tawanya.

Sandra berbalik dan kembali memelototi Meitha dengan pandangan membunuh kemudian menatap Ryan dengan (sok) galak tapi (keliatan banget!!) ada tatapan memuja dimatanya.

Cacat! Sumpeh, nih cewek otaknya udah keputer 360 derajat kali ya!?? Sempet-sempetnya ngeliatin Ryan dengan tatapan terpesona bin memuja gitu. TAPI gue nggak cemburu!! Ish, males banget deh. Gue kan cuma risih aja ngeliat tatapan si nenek sihir itu! Nggak banget!


“Pokoknya gue nggak percaya elo yang nembak dia!!” Sandra menatap tajam Meitha lalu memulai aksi sinetronnya. Ia menunjuk Meitha dengan gerakan berlebihan. “Dasar cewek ganjen! Murahan!”

Sandra emang bener –bener korban sinetron nih!

“Oke, cukup!” Ryan melepas rangkulannya pada Meitha dan berjalan ke arah Sandra dengan tatapan sangarnya. Ia menuding wajah Sandra dengan jari telunjuknya. “Gue kasih peringatan aja ya sama lo –dan mungkin pengikut lo juga. Jangan pernah sekalipun mencoba memancing emosi gue, oke? Gue paling nggak suka orang yang suka ngeganggu privasi gue. Jangan pikir karena lo cewek ato karena lo senior gue, lo bisa seenaknya. Kalo kata –kata nggak bisa bikin elo sadar, gue bisa pake jalan kekerasan. Ngerti!?”

Whoaaa.. Ini pertama kalinya Meitha melihat langsung kalo Ryan lagi ngamuk. Uih, galak banget! Kalo ngeliat dari tatapan matanya sih, anceman Ryan jelas nggak main –main. Tuh, fansnya aja, apalagi Sandra, langsung mengkeret! Untung Meitha dalam posisi yang dibelain. Kalo di posisi Sandra? Mati kutu deh!

Sandra dan pengikutnya bener –bener nggak berkutik! Mereka mengangguk nyaris bersamaan dengan wajah yang di dominasi dengan ketakutan. Ryan nggak menanggapi dan malah berbalik ke arah Meitha. Whoaaaa! Tampangnya serem banget. Kayak kejadian di atap tadi! Meitha jadi keder juga. Jangan-jangan dia juga bakal dimarahin?

“Ayo,” ajaknya sambil menarik tangan Meitha. Mereka berdua melintasi gerombolan cewek –cewek itu. Dan semua pasang mata mengikuti pergerakan mereka dengan berbagai ekspresi. Ugh, berasaslow motion banget!

Meitha melihat ke tempat gerombolan Ryan yang ternyata sudah berkurang. Hanya tinggal Adit dan Erick yang berdiri di dekat tangga. Mereka berdua keliatan terhibur sekali dengan pemandangan di depan mereka dan ketawa ketiwi nggak jelas. Edan!

Meitha sempat mendengar percakapan kedua orang itu.

“Liat! Wajah mereka pada pucet semua tuh!”

“Ntar juga mereka bakal teriak –teriak histeris muji –muji si Ryan.”

“Ohya?”

“Taruhan?”

“Traktir seminggu penuh?”

“Oke”

Deal!

Tuh dua cowok sarap apa gimana ya!? Sempet – sempetnya taruhan nggak jelas. Bikin orang kesel aja!


“Aksi lo keren,” puji Adit begitu Ryan dan Meitha sudah cukup dekat dengan jangkauannya. Ia mengacungkan jempolnya kemudian menepuk bahu Ryan cukup keras. Alamak!

“Ngelawak ya lo?” balas Ryan kecut. Keliatannya dia masih kesal dan emosi dengan kejadian tadi. Meitha menoleh ke belakang dan melihat bahwa perkumpulan itu sudah bubar. Meitha menghembuskan nafas lega.

“Ah, gue jadi males muji elo! Ngomong –ngomong, cewek lo kok diem terus sih dari tadi?”

Ryan menoleh ke arah Meitha, sepertinya baru nyadar kalo sedari tadi Meitha sama sekali nggak membuka mulutnya. Ryan tidak berkata apa –apa. Hanya ngeliatin Meitha dengan pandangan spekulatif.

“Mikirnya lama amat, Yan,” cela Erick sambil tersenyam senyum menyebalkan. “Cewek lo syok tuh. Ngeliat betapa galaknya cowok yang dicintainya ini.. Hehehe”

WHAT!?  COWOK YANG DICINTAINYA!? Hah! Coba lo bisa baca pikiran gue, Rick. Iye, gue emang syok. Syok gara –gara gue salah pilih lawan. Main –main sama dia!? Bisa –bisa gue dimakan hidup –hidup! HIYY!!


“Nah, loh.. Tanggung jawab lo, Yan. Wajahnya ampe pucet gitu. Ntar lo diputusin lagi,” ledek Adit jelas bermaksud memanas -manasi. Meitha rasanya pengin gigit sesuatu saking keselnya. Arwhh..

Ryan malah ketawa dengan ledekan Adit dan Erick yang kompak banget itu. Dengan santainya cowok itu menanggapi, “Hmm? Ya nggak mungkinlah. Kayaknya dia cinta mati sama gue tuh,” dan mengedipkan sebelah matanya ke arah Meitha. Yang ingin Meitha lakukan saat ini adalah nyekik Ryan saat itu juga! Tuh anak sama aja kayak temen –temennya. Sama –sama error!

“Biasa aja kok,” balas Meitha keki saat cowok – cowok itu ketawa gila –gilaan. Sumpah, suaranya bikin telinga cenat cenut!

“Pertanda lo mau diputusin!” seru Adit lalu terkekeh pelan. Meitha speechless. Dia sama sekali nggak ngerti dengan candaan mereka, terutama Adit. Agak keterlaluan sebenarnya. Aturannya kan temen deketnya baru dapet pacar, kok malah…

“Lo nyumpahin gue?”

Nah, itu maksud Meitha.

“Weiss, gue nggak ikut campur lho, Yan” Erick langsung angkat tangan. “Gue nggak mau jadi korban kekerasan lagi”

“Yahh, jangan marah gitu dong. Gue kan cuma bercanda!” jelas Adit buru –buru. Ia memelototi Erick dan menyenggol bahunya, “Nggak setia kawan lu!”

“Kasus kayak gini mah gue ogah setia kawan sama lo,” balas Erick cepat. Meitha cuma bisa geleng –geleng kepala ngeliatnya.

“Terserah deh,” balas Ryan pendek kemudian mulai menarik paksa Meitha pergi dari tempat itu, mengikuti cowok itu. Meitha pasrah –pasrah aja. Kayaknya tuh cowok lagi bad mood. Wajahnya galak banget!

“Eh, gitu aja marah! Met, bantuin kita bujukin dia dooooong,” mohon Adit dengan wajah dimelas –melaskan.

“Males ahh”

Siapa suruh jadi orang kok rese banget? Meitha nggak mau bantu lah.

“Elo bego apa goblok sih, Dit? Meitha kan ceweknya Ryan. Mendingan juga belain cowoknya ketimbang belain elo!!”

“Apaan sih lo? Ngajak perang lo ya??”

“Sst! Lo pada bisa diem nggak!?” desis Ryan yang mulai senewen dengan percakapan kedua cowok itu

“Hah, harusnya ada Dani di sini. Dua lawan dua kan pas,” keluh Adit karena merasa dipojokan. Ryan melirik tajam ke Adit, tapi Adit sok –sokan nggak nyadar. Erick malah ketawa ngakak ngeliatnya. Meitha sendiri? Kaget karena tiba –tiba nama Dani muncul di pembicaraan mereka.

“Ngomong –ngomong, tuh anak kemana?” tanya Adit akhirnya.

“Mana gue tau..” balas Erick sambil mengangkat bahunya.

“Lo tau nggak, Yan?”

“Nggak,”

Adit memandang Ryan dengan heran, “Lo kenapa sih? Hari jadian lo nih. Wajahnya malah mendung gitu!”

“Hmmmm…”

Entah kenapa, perasaan Meitha jadi nggak enak.

***

“Eh, lo tau nggak.. ternyata Ryan udah punya pacar!”

“Hah? Masa sih lo? Kok gue nggak tau!?”

“Ya jelas elo nggak tau. Barusan aja Ryan bikin kehebohan di lapangan dan koridor di lantai tiga. Untung aja gue tadi sempet jajan di acara bazaar. Semua pada ngomongin itu tauuu”

“Wah, rese. Ugh, harusnya kita nggak usah ngadain rapat OSIS segala. Ceweknya siapa sih?”

“Kalo nggak salah namanya Meitha. Anak kelas 10 yang baru –baru ini keliatan deket ama Ryan!”

Dani menutup buku tebal yang sedang dibacanya dengan cukup keras. Kedua cewek yang sedang asik bergosip itu tersentak kaget mendengarnya. “Eh, sori.. Ya ampun.. Kita ganggu elo ya?”

Dani melirik mereka sekilas. “Nggak. Lagipula rapatnya kan emang udah selesai”

“Tapi elo kan masih…”

“Gue balik dulu deh,” potong Dani kemudian bangkit berdiri dari tempat duduknya dan membawa buku serta berkas –berkas OSIS ditangan kanannya. Meninggalkan kedua cewek itu yang menjadi merasa bersalah karena sudah mengganggu Dani.

Dani keluar dari ruangan dan menutup pintunya agak keras. Salah satu anggota OSIS cowok yang masih berada disana mulai berkomentar, “Mampus lo. Dia marah tuh. Padahal dia kan masih sohibnya si Ryan”

“Yeee.. Gue kan nggak nyadar kalo dia masih ada disana!” bela salah satu dari kedua cewek yang bergosip tadi.

“Iya, mana dia kalo lagi serius gitu diem banget sih,” timpal satunya kompak.

“Karena itulah dia dicalonin jadi ketua OSIS.. Lagi” jawab yang lainnya.

“Lagi?”

“Iya, waktu SMP dia juga jadi ketua OSIS,” jawab cowok itu -yang ternyata satu SMP dengan Dani- sambil mencoba mengingat sesuatu. “Ngomong –ngomong, cewek yang jadi pacarnya Ryan itu… bener namanya Meitha? Meitha Aulia Putri?”

“Kalo nggak salah.. Iya, itu namanya. Kenapa?” tanya cewek yang tadinya sempat mencari informasi soal ceweknya Ryan.

“Meitha itu kan gebetannya Dani sewaktu SMP…”

“Ohhh?” seluruh anggota OSIS disana menoleh dan menatap cowok itu dengan terkejut. Bahkan, yang mulanya tidak peduli dengan percakapan mereka bertiga pun menjadi tertarik mendengarnya.

            “Bukannya dia pacaran sama Marisa?”

            “Emang masih? Bukannya mereka udah putus?”

            “Siapa yang bilang?”

            “Yaaa.. siapa sih yang tahan LDR sampe tiga tahun lamanya? Gue sih enggak.. Lagipula gue udah nggak pernah denger Dani nyebut nama tuh cewek.”

            “Hmm…” hanya gumaman itu yang bisa dikeluarkan oleh mereka.

            “Dan akhir –akhir ini gue juga sering liat Dani ngedeketin tuh cewek..”

            “Hmmmmmmmm…” gumaman itu semakin lama semakin penuh makna.

***

            Meitha dan Ryan kini sudah berdiri di depan kelas Meitha. Adit dan Erick udah menghilang sejak kejadian tadi. Mereka nggak mau repot –repot nganterin Meitha sampe ke kelasnya segala. Kurang kerjaan. Tapi menurut Ryan dan Meitha, tindakan itu harus dilakukan. Kehebohan yang mereka timbulkan bener –bener udah sampai tahap kerusuhan. Nyaris saja Meitha dilahap oleh fansnya Ryan! Ryan kan jadi merasa kudu bertanggung jawab juga. Dianterin deh Meitha ke kelas, supaya lebih aman. Soalnya dia masih ada pertandingan basket.

            “Oke, gue tinggal dulu ya..” Ryan langsung berbalik dan berjalan meninggalkan Meitha yang masih terbengong –bengong di depan kelasnya. Suasana disekitar koridor cukup hening. Nggak banyak orang berkeliaran.

            “Tunggu,” cegah Meitha tanpa banyak pikir panjang. Ryan menoleh, “Ya?”

            Sebenarnya ada yang ingin Meitha tanyakan. Suatu hal yang sudah mengganggunya sedari tadi. “Kenapa lo ngaku sama semua orang kalo elo yang nembak gue? Padahal kenyataannya kan nggak gitu..”

            Ryan terdiam sesaat. Terlihat sedang berpikir. Ia berjalan kembali mendekati Meitha. Meitha menahan nafas saat Ryan sudah berdiri tepat didepannya. Menunggu jawaban. Tak disangka, Ryan malah tersenyum mengejek dan menepuk kepalanya seolah Meitha itu anak kecil.

            “Gue kan nolongin lo. Coba kalo gue bilang sebenarnya. Nggak bakal selamat lo dari Sandra dan pengikutnya itu!”

            Glek! Benar juga sih kata Ryan.

            “Emang segitu parahnya ya?”

            “Dari pengalaman sih.. iya, parah banget”

            “Tapi lo kan nggak pernah nerima perasaan cewek yang pernah nembak elo…?” kata Meitha hati –hati.

            “Dan sekarang gue nerima perasaan lo. Jadi, menurut tebakan gue, reaksi mereka bakal lebih heboh. Dan kayaknya kehebohan itu juga menyebar ke seluruh sekolah. Kenapa ya?” tanya Ryan lebih kepada dirinya sendiri. Alamak! Meitha jadi nggak habis pikir. Kok bisa ya ada cowok yang sama sekali nggak nyadar dengan pesonanya sendiri!?

            “Lagipula, bagi gue nggak masalah siapa yang nembak siapa. Yang penting kan hasilnya jadian atau enggak. Nggak masalah kalo mereka ngira gue yang nembak elo. Tapi kayaknya bakal jadi masalah kalo mereka tau elo yang nembak gue…”

            Meitha speechless. Dia nggak nyangka ternyata Ryan juga peduli dengan “keselamatan”nya. Tapi tetap saja..

            “Kenapa sih lo nerima gue? Padahal kan ada banyak cewek yang nembak elo. Dan banyak yang lebih cantik dan lebih perfect daripada gue. Misalnya, Sandra?” Sepertinya Meitha sedang berusaha mensugesti Ryan supaya berpikir kembali mengenai hubungan mereka. Meitha masih belum menyerah dengan keadaan, rupanya!

            “Setiap orang pasti punya daya tarik tersendiri. Bagi gue, cantik itu relatif. Kalo gue ngeliat cewek dari segi fisik apalagi dari segi materi, berarti gue cowok paling goblok yang pernah ada. Dan untungnya gue nggak kayak gitu. Ngomong –ngomong, gini –gini gue juga punya kriteria. Misalnya, gue nggak suka cewek yang lebih tua..”

            “Jadi, kenapa lo nerima gue?”

            “Itu rahasia perusahaan,” kilah Ryan dengan entengnya. “Lagipula, lo itu aneh banget. Gue nerima pernyataan lo, lo malah keliatan nggak suka. Jangan –jangan kalo gue nolak elo, lo bakal seneng..?”

            “Eh, ya nggak gitu juga kali.. Gue kan cuma mau tau.. perasaan lo sama gue..” kata Meitha gugup. Mau nggak mau, dia deg-degan juga menunggu jawaban Ryan.

            “Perasaan gue? Biasa aja tuh.”

            “Hah!?”

            Ryan mengabaikan reaksi Meitha dan malah menatap ke jam tangan yang dipakainya. “Oke, gue balik dulu. Bentar lagi pertandingannya bakal dimulai. Bye..”

            Dan cowok itu pun pergi. Meninggalkan Meitha dengan sejuta pertanyaan dikepalanya. Meitha masih terpaku ditempatnya dengan mulut terbuka lebar. Sesaat kemudian dia baru bisa bereaksi.

            “Lalu kenapa elo nerima gue!???” desis Meitha yang jadi kesal dengan jawaban Ryan yang membuat kepala Meitha mendidih.

***

            “Yan..”

            Ryan berhenti berjalan saat namanya dipanggil dari belakang. Suaranya terdengar familier di telinga Ryan. Ryan menoleh dan benar saja, Dani sudah berdiri tak jauh darinya.

            “Rapat lo udah selesai?”

            “Udah. Sekitar lima belas menit yang lalu.” Dani terdiam sesaat. “Mau kemana lo?”

            “Gue tau bukan itu yang pengin lo tanyakan”

            “Oke, lo benar,” cetus Dani sambil mengangkat tangan kirinya, tanda menyerah. “Gue cuma mau nanya sama lo.. Lo beneran pacaran sama Meitha?”

            Ryan mengangguk acuh tak acuh.

            “Lo yang nembak dia?”

            “Berita cepat menyebar rupanya,” balas Ryan tanpa merasa perlu menjawab pertanyaan Dani dengan benar. Dani menoleh ke sekeliling, memastikan tidak ada orang yang mendengar pembicaraan mereka. “Lo bilang, lo nggak naksir sama dia!”

            “Emang,” jawab Ryan masih dengan santainya mmebuat Dani lama –lama jadi kesal juga. “Lalu kenapa lo nembak dia?”

            “Itu bukan urusan lo..”

            “Lo mainin dia!”

            “Siapa bilang?” tanya Ryan dengan alis terangkat sebelah. Dani memutar bola matanya. Heran, nih anak kayak nggak punya dosa aja

“Lo nggak suka sama dia, tapi lo malah nembak dia. Udah jelas kan?”

“Untuk sohib gue yang paling menyebalkan, gue kasih tau deh hal yang sebenarnya. Bukan gue yang nembak dia. Yang ada justru kebalikannya.”

Dani ternganga mendengarnya.

“Kok bisa?”

“Kenapa nggak nanya orangnya langsung?”

“Tapi.. tapi… Lalu kenapa lo nerima dia?” tanya Dani masih tidak terima.

“Gue udah bilang, ini bukan urusan lo. Ini urusan gue sama dia, oke? Tapi boleh deh, kalo lo mau minta pendapatnya Meitha.” jawab Ryan dengan wajah tak berdosanya. Ia kembali melanjutkan perjalanannya menuju ke lapangan basket dan meninggalkan Dani yang masih terdiam di tempatnya berdiri tadi.

“Gue nggak ngerti!” desis Dani frustasi dengan jawaban Ryan yang penuh teka teki.

***

Dani memutuskan untuk mencari Meitha. Sungguh, dia nggak mengerti dengan situasi yang dihadapi antara Meitha dan Ryan. Ryan kelihatannya biasa saja menanggapi masalah ini. Seolah mereka hanya membicarakan hal –hal sepele. Padahal ini pertama kalinya Ryan pacaran sama cewek. Jelas ini nggak main –main. Tapi kenapa dari sikap dan tindak tanduknya, Ryan terlihat biasa saja dan cenderung tak peduli?

Dani harus memastikannya dari pihak Meitha!

Setelah mencari kesana –sini, akhirnya Dani menemukan cewek itu sedang berada didalam kelasnya sendirian. Dani mengintip dari celah pintu yang terbuka dan memperhatikan cewek itu dengan lekat. Meitha sedang duduk di pojok belakang dengan salah satu tangannya menopang dagunya. Kelihatannya cewek itu sedang asik melamun. Ia terlihat sedih, frustasi, sekaligus marah. Dani jadi bingung. Mereka ini pacaran ato musuhan sih? Nggak ada pancaran kebahagiaan disana.

Dani membuka pintu lebih lebar dan masuk ke dalam. Meitha terbangun dari lamunannya dan terkejut melihat Dani ada didalam ruangan kelasnya. Padahal seharian ini Meitha sama sekali nggak melihat keberadaan Dani. Kok dia tiba –tiba muncul gitu sih?

“Ngapain lo kesini?”

Dani tidak menjawab. Dia terus berjalan kemudian duduk di kursi di depan meja Meitha. Setelah hening beberapa saat, Dani baru menyahut, “Gue cuma mau ngomong sama lo..”

“Ngomong aja,” jawab Meitha malas –malasan. Dia udah nebak kemana arah pembicaraan ini.

“Lo beneran pacaran sama Ryan?”

Meitha mengangguk acuh tak acuh.

“Lo yang nembak dia?”

“Ternyata dia udah ngasih hal yang sebenarnya ke elo ya” balas Meitha tanpa merasa perlu menjawab pertanyaan Dani dengan benar. Dani mengerutkan keningnya. Kenapa rasanya kayak de javu ya? Sikap Meitha sama cueknya dengan sikap Ryan! Whoaa.. Ada apa ini?

“Kenapa lo nembak dia? Lo suka sama dia?”

“Bukan urusan lo,” seru Meitha galak.

Mirip. Tapi reaksinya agak beda, pikir Dani dalam hati.

“Oke, gue cuma mau ngasih selamat sama lo. Semoga langgeng ya,” kata Dani dengan lemah. Meitha sedikit terkejut dengan ucapan Dani. Nggak nyangka tuh cowok bakal bilang gitu sama dia.

“Thanks,” kata Meitha akhirnya. Meskipun dalam hati di udah teriak –teriak menolak doa restu dari Dani. Langgeng sama Ryan? Mampus deh Meitha!